JAKARTA - Langkah ekspansi dan penguatan struktur keuangan kembali ditempuh PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE).
Di tengah dinamika industri pertambangan nikel yang semakin kompetitif, perseroan memperoleh tambahan likuiditas melalui fasilitas pinjaman perbankan. Suntikan dana ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga fleksibilitas pembiayaan sekaligus mendukung kebutuhan operasional.
PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE), emiten pertambangan bijih nikel mendapat pinjaman dari PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP). Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, Adhi Kartiko mendapat pinjaman sebesar Rp 100 miliar.
Direktur Adhi Kartiko Pratama Yeon Ho Choi menjelaskan, pinjaman ini ditandatangani pada 6 Februari 2026. Pinjaman ini dikenai suku bunga sebesar compounded tiga bulan Indonia ditambah 1,8%. Pinjaman ini berjangka waktu sampai dengan 6 Januari 2027.
“Mengacu pada ketentuan Pasal 11 POJK 17/2020, maka dalam hal perusahaan menerima pinjaman secara langsung dari bank, maka dikecualikan atas kewajiban penggunaan penilai dan memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),” kata Yeon dalam rilis.
Skema Kredit dan Ketentuan Regulasi
Fasilitas kredit yang diterima NICE memiliki struktur yang jelas, baik dari sisi bunga maupun tenor. Skema bunga menggunakan compounded tiga bulan Indonia ditambah 1,8%, mencerminkan mekanisme pembiayaan berbasis suku bunga acuan domestik. Dengan jangka waktu hingga 6 Januari 2027, pinjaman ini tergolong pembiayaan jangka pendek hingga menengah yang ditujukan untuk menopang aktivitas operasional.
Ketentuan regulasi juga menjadi perhatian dalam aksi korporasi ini. Mengacu pada pernyataan manajemen, pinjaman langsung dari bank tidak mewajibkan perusahaan menggunakan jasa penilai independen maupun memperoleh persetujuan RUPS sebagaimana diatur dalam POJK 17/2020. Hal ini memberikan efisiensi waktu dan proses administratif bagi perseroan.
Yeon menjelaskan, fasilitas kredit akan digunakan oleh NICE sebagai opsi pembiayaan untuk modal kerja. “Adapun berdasarkan penelaahan yang dilakukan NICE, tidak terdapat dampak material terhadap kondisi keuangan perusahaan atas diterimanya fasilitas kredit ini,” tutur dia.
Kinerja Keuangan Tumbuh Signifikan
Tambahan pembiayaan ini hadir di tengah pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan. Hingga September 2025, total aset NICE sebesar Rp 668,43 miliar. Angka ini naik dari posisi aset di 2024 yang mencapai Rp 409,01 miliar. Peningkatan aset tersebut menunjukkan ekspansi dan penguatan struktur neraca dalam setahun terakhir.
Sementara ekuitas NICE sebesar Rp 315,64 miliar di September 2025 dari akhir 2024 sebesar Rp 174,67 miliar. Lonjakan ekuitas ini memperlihatkan akumulasi kinerja laba serta penguatan permodalan perusahaan.
Dari sisi pendapatan, NICE mencatat pertumbuhan impresif. Pendapatan NICE per September 2025 mencapai Rp 832,11 miliar, naik 100,38% secara tahunan. Pertumbuhan dua kali lipat ini menegaskan peningkatan volume maupun nilai penjualan di tengah permintaan nikel yang masih solid.
Tak hanya itu, laba bersih NICE melonjak 274,02% secara tahunan menjadi Rp 140,97 miliar. Kenaikan signifikan tersebut turut mendongkrak laba bersih per saham NICE pada September 2025 di Rp 23,18 per saham, naik dari September 2024 sebesar Rp 6,2 per saham.
Respons Pasar dan Pergerakan Saham
Kinerja keuangan yang kuat serta tambahan fasilitas kredit turut menjadi perhatian pelaku pasar. Harga saham NICE naik 4,47% di Rp 374 per saham. Kenaikan ini mencerminkan respons positif investor terhadap perkembangan terbaru perseroan.
Namun demikian, secara year to date saham NICE masih mencatatkan koreksi sebesar 6,97%. Fluktuasi ini menunjukkan dinamika pasar yang tetap dipengaruhi oleh sentimen sektor komoditas, pergerakan harga nikel global, serta kondisi makroekonomi.
Meski demikian, kombinasi antara pertumbuhan kinerja yang agresif dan tambahan likuiditas dinilai dapat memperkuat daya tahan perusahaan menghadapi volatilitas pasar.
Modal Kerja dan Prospek Ke Depan
Penggunaan fasilitas kredit sebagai opsi pembiayaan modal kerja memberi ruang fleksibilitas bagi NICE dalam menjaga kelancaran operasional. Modal kerja yang memadai penting bagi perusahaan tambang, terutama untuk mendukung aktivitas produksi, distribusi, hingga pengelolaan logistik.
Dengan aset yang terus bertumbuh, ekuitas yang menguat, serta laba yang melonjak signifikan, struktur keuangan NICE berada dalam tren positif hingga September 2025.
Tambahan pinjaman Rp 100 miliar ini diharapkan menjadi instrumen pendukung, bukan beban, sebagaimana ditegaskan manajemen bahwa tidak ada dampak material terhadap kondisi keuangan perusahaan.
Ke depan, konsistensi kinerja akan menjadi kunci utama. Industri nikel yang memiliki peran strategis dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan industri hilirisasi mineral memberi peluang pertumbuhan jangka panjang.
Dengan fondasi keuangan yang semakin solid dan dukungan pembiayaan yang terukur, NICE berada pada posisi untuk menjaga momentum ekspansi sekaligus mempertahankan stabilitas keuangan.
Langkah memperoleh fasilitas kredit dari Bank KB Indonesia menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan struktur pendanaan.
Di tengah pertumbuhan kinerja yang signifikan, tambahan likuiditas tersebut memperkuat fleksibilitas operasional tanpa mengubah fundamental keuangan secara material, sebagaimana ditegaskan dalam keterbukaan informasi kepada publik.