ASDP Indonesia Ferry

ASDP Indonesia Ferry Siapkan 32 Kapal Layani Ketapang–Gilimanuk Antisipasi Lonjakan Arus Lebaran

ASDP Indonesia Ferry Siapkan 32 Kapal Layani Ketapang–Gilimanuk Antisipasi Lonjakan Arus Lebaran
ASDP Indonesia Ferry Siapkan 32 Kapal Layani Ketapang–Gilimanuk Antisipasi Lonjakan Arus Lebaran

JAKARTA - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyiapkan skema pengoperasian hingga 32 kapal di lintasan Ketapang–Gilimanuk sebagai langkah antisipasi menghadapi lonjakan arus mudik dan balik Lebaran 2026. Kebijakan ini disusun untuk memastikan kelancaran mobilitas masyarakat, khususnya pada periode puncak perjalanan yang diperkirakan terjadi beberapa hari sebelum Hari Raya Idulfitri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menyeluruh ASDP dalam menjaga kelancaran transportasi laut di jalur penghubung utama Pulau Jawa dan Bali. Dengan karakteristik lintasan yang sangat vital bagi distribusi orang dan barang, kesiapan armada dan manajemen operasional menjadi faktor krusial agar kepadatan dapat diurai secara efektif.

Skema Operasi Bertingkat Hadapi Lonjakan Penumpang

ASDP menerapkan pola operasi bertingkat yang disesuaikan dengan tingkat kepadatan antrean kendaraan di pelabuhan. Executive Manager Regional III PT ASDP Indonesia Ferry, Lutfi Pratama Adi Subarkah, menjelaskan bahwa skema ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni Normal, Padat, dan Sangat Padat.

“Jadi ketika kapal operasi normal itu yang beroperasi 28 kapal dalam satu hari, 8 trip atau 8 putaran. Tapi ketika Padat, kita menjadi 30 armada, dan ketika Sangat Padat menjadi 32,” ujar Lutfi di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu, “11 Februari 2026”.

Dalam kondisi Normal, antrean kendaraan masih berada di dalam area pelabuhan. Ketika antrean memanjang hingga ke luar pelabuhan, ASDP menaikkan status menjadi Padat, dan jika antrean semakin panjang hingga melewati indikator tertentu, maka status Sangat Padat diberlakukan.

Menurut Lutfi, penyesuaian ini dilakukan secara dinamis berdasarkan pemantauan di lapangan. Di Pelabuhan Ketapang, antrean hingga sekitar 190 meter dari gerbang tol ASDP masih dianggap Normal. Namun, jika antrean mencapai area stasiun kereta api, maka skema langsung dinaikkan menjadi Padat dengan pengoperasian 30 kapal.

Indikator Kepadatan dan Penambahan Armada

Untuk kategori Sangat Padat, indikator antrean di Pelabuhan Ketapang ditetapkan ketika kendaraan mengular hingga satu kilometer dari gerbang tol. Dalam kondisi ini, ASDP mengusulkan pengoperasian maksimal 32 kapal secara simultan guna mempercepat proses penyeberangan.

“Kalau kondisi Sangat Padat, kalau di Ketapang ini kami sudah sampai 1 kilometer dari toll gate, itu kami sudah menganggap Sangat Padat. Sehingga kapal yang dioperasikan kami mengusulkan untuk sebanyak 32 armada,” kata Lutfi.

Sementara itu, di Pelabuhan Gilimanuk, indikator Sangat Padat ditetapkan ketika antrean kendaraan mencapai 1,3 kilometer dari gerbang tol. Ketika batas tersebut terlampaui, skema operasi di sisi Bali juga dinaikkan menjadi 32 kapal.

Penerapan indikator ini bertujuan agar pengambilan keputusan tidak terlambat dan penumpukan kendaraan dapat diantisipasi lebih dini. Dengan begitu, pengguna jasa diharapkan tidak mengalami waktu tunggu yang terlalu lama.

Prediksi Puncak Arus Mudik dan Antisipasi Dini

ASDP memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 akan terjadi pada H-4 atau sekitar 16 Maret 2026. Namun, pergerakan kendaraan diperkirakan sudah mulai meningkat sejak H-7. Oleh karena itu, ASDP berencana memberlakukan skema Padat lebih awal guna mengantisipasi lonjakan tersebut.

“Meski prediksi puncak arus mudik itu di tanggal 16, tapi biasanya bangkitannya itu di 3 hari sebelumnya. Makanya kita nanti akan mengajukan bahwa di H-7 kita sudah skema Padat,” ujar Lutfi.

Selain faktor kebiasaan masyarakat yang mudik lebih awal, keberadaan libur akhir pekan yang berdekatan dengan cuti bersama juga dinilai berpotensi mempercepat lonjakan arus. Kondisi ini membuat ASDP memilih untuk bersikap lebih siaga sejak dini.

Penerapan skema bertahap tersebut diharapkan mampu mengurai kepadatan secara lebih merata dan mencegah terjadinya antrean panjang yang berpotensi mengganggu kenyamanan serta keselamatan penumpang.

Proyeksi Kenaikan Kendaraan dan Penumpang

Dalam proyeksinya, ASDP memperkirakan jumlah kendaraan yang menyeberang selama periode Lebaran 2026 akan meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah penumpang diperkirakan naik sekitar 2 persen.

Lonjakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pelabuhan, mengingat lintasan Ketapang–Gilimanuk merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia. Setiap tahunnya, jutaan penumpang memanfaatkan jalur ini sebagai pintu utama menuju dan keluar Pulau Bali.

Kenaikan volume kendaraan dan penumpang tersebut mendorong ASDP untuk tidak hanya menambah armada, tetapi juga memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan otoritas pelabuhan, kepolisian, dan instansi terkait lainnya.

Langkah Pendukung dan Koordinasi Lintas Instansi

Selain menambah jumlah kapal, ASDP juga menyiapkan sejumlah langkah pendukung untuk mengelola arus mudik dan balik Lebaran. Di antaranya adalah penggunaan buffer zone, penerapan sistem delaying system, serta penguatan koordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), dan kepolisian.

Buffer zone disiapkan sebagai area penampungan sementara kendaraan sebelum memasuki pelabuhan, sehingga antrean tidak langsung menumpuk di area utama. Sementara delaying system digunakan untuk mengatur ritme kedatangan kendaraan agar tidak terjadi lonjakan secara bersamaan.

Koordinasi intensif dengan aparat kepolisian dilakukan untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas di sekitar pelabuhan, termasuk pengaturan rekayasa lalu lintas apabila terjadi kepadatan signifikan.

Dengan serangkaian langkah tersebut, ASDP berharap layanan penyeberangan selama periode Lebaran 2026 dapat berjalan lebih tertib, aman, dan nyaman bagi masyarakat. Kesiapan armada, sistem operasional yang adaptif, serta dukungan lintas instansi menjadi kunci utama dalam mengantisipasi lonjakan arus mudik di lintasan vital Ketapang–Gilimanuk.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index